BALAPAN KEBO (SUMBAWA CULTURE)
Berapan Kebo merupakan salah satu atraksi yang sangat disukai oleh para touris :))

Barapan
kebo adalah event tradisional para Sandro, Joki dan Kerbau terbagus saat
tiba musim tanam Sumbawa. Tradisi Barapan Kebo tidak hanya diselenggarakan di
Pemulung akan tetapi eksis juga di desa Moyo Hulu, desa Senampar, desa Poto,
desa Lengas, desa Batu Bangka, desa Maronge hingga desa Utan sebagai event
budaya khas Sumbawa.
dikumpulkan
3 atau 4 hari sebelum event budaya ini di gelar, untuk diukur tinggi dan
usianya. Hal ini dimaksudkan, agar dapat ditentukan dalam kelas apa
kerbau-kerbau tersebut dapat dilombakan. Durasi atau lamanya event adalah
ditentukan dari seberapa banyak jargon Kerbau yang ikut dalam event budaya
Barapan Kebo.
Hal-hal
yang membuat jauh berbeda dari karapan sapi Madura atau mekepung di Bali,
adalah ini adalah pentas para Sandro adu ilmu, dan para joki adu sumbar, saat
"sakak" tongkat magis Sandro penghalang dapat tersentuh oleh
kekuatan lari sang kerbau dengan bantuan Sandro back-up joki dan kerbau
peserta.
Pasangan
kerbau yang berhasil meraih juara adalah pasangan kerbau tercepat mencapai
tujuan sekaligus dapat menyentuh atau menjatuhkan kayu pancang tanda finish
yang disebut dengan sakak.
Usaha seorang Joki mengendalikan kerbo untuk menabrak patok kayu.

Balapan kerbau sendiri dibagi menjadi beberapa
kelas; mulai umur 2 hingga 5 tahun. Masing-masing kelas sudah ditandai
sesuai dengan umur dan berat badannya. Yang menarik, tentu saja kerbau
kelas A, yang berbadan kekar dan besar. Kecepatan kerbau-kerbau ini
memang di atas kelas yang lebih kecil.
Pada setiap pertandingan, terdapat beberapa
official pertandingan. Yang pertama tentu saja petugas start yang
memastikan setiap kerbau memulai start pada tempatnya. Nah, yang paling
krusial adalah wasit pemegang bendera, dialah yang menentukan apakah
pasangan kerbau yang melewati garis finish dinyatakan sah atau tidak.
Selain itu, tentu saja ada petugas pencatat waktu. Belum ada kamera
finish yang modern yang mencatat garis finish. Mereka masih menggunakan
stop watch digital, yang dihubungkan dengan petugas pencatat waktu di
panggung. Menurut saya, masih cukup memadai dan akurat karena saat stop
watch dipencet, angka digital di depan petugas pencatat juga langsung
berhenti.
Untuk bisa meluruskan lagi, sang joki biasanya menghentakkan ekor kerbau
di sebelah kiri dan memukul pantatnya lebih kencang dengan rotan agar
kerbau sebelah kiri melaju. Dengan laju yang sama, jalanpun kembali
lurus. Begitulah, timing kapan sang joki memukul kerbau sebelah kiri
atau kanan sangat menentukan bagaimana pasangan kerbau itu bisa finish
dengan cepat, dan tepat menyentuh patok kayu yang telah ditentukan.
Banyak kejadian lucu dan mengenaskan selama pertandingan berlangsung. Ada joki yang harus terlempar di tengah sawah, ada yang marah-marah karena kerbaunya tidak mau lari. Ada juga joki yang saking kesalnya, karena kerbaunya keluar jauh dari arena pertandingan, berteriak sangat kencang: “Dasar kerbau ngga punya otaaaaaaakkkkkkk”, tentu dengan ekspresi marah. Ada-ada aja….hihihihi..:)) Sumbawa memeng Unique city..^_^..
Banyak kejadian lucu dan mengenaskan selama pertandingan berlangsung. Ada joki yang harus terlempar di tengah sawah, ada yang marah-marah karena kerbaunya tidak mau lari. Ada juga joki yang saking kesalnya, karena kerbaunya keluar jauh dari arena pertandingan, berteriak sangat kencang: “Dasar kerbau ngga punya otaaaaaaakkkkkkk”, tentu dengan ekspresi marah. Ada-ada aja….hihihihi..:)) Sumbawa memeng Unique city..^_^..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar