Minggu, 10 Juni 2012

BALAPAN KEBO (SUMBAWA CULTURE)
Berapan Kebo merupakan salah satu  atraksi yang sangat disukai oleh para touris :))
13391099071279718087
 Barapan kebo adalah event tradisional para Sandro, Joki dan Kerbau terbagus saat tiba musim tanam Sumbawa. Tradisi Barapan Kebo tidak hanya diselenggarakan di Pemulung akan tetapi eksis juga di desa Moyo Hulu, desa Senampar, desa Poto, desa Lengas, desa Batu Bangka, desa Maronge hingga desa Utan sebagai event budaya khas Sumbawa.
Barapan Kebo atau Karapan Kerbau ala Sumbawa ini diselenggarakan pada awal musim tanam padi. Lokasi atau arena Barapan Kebo adalah sawah yang telah basah atau sudah digenangi air sebatas lutut. Perlakuan pemilik kerbau jargon Barapan Kebo sama seperti perlakuan audisi Main Jaran. Kerbau-kerbau peserta 

dikumpulkan 3 atau 4 hari sebelum event budaya ini di gelar, untuk diukur tinggi dan usianya. Hal ini dimaksudkan, agar dapat ditentukan dalam kelas apa kerbau-kerbau tersebut dapat dilombakan. Durasi atau lamanya event adalah ditentukan dari seberapa banyak jargon Kerbau yang ikut dalam event budaya Barapan Kebo.
Hal-hal yang membuat jauh berbeda dari karapan sapi Madura atau mekepung di Bali, adalah ini adalah pentas para Sandro adu ilmu, dan para joki adu sumbar, saat "sakak" tongkat magis Sandro penghalang dapat tersentuh oleh kekuatan lari sang kerbau dengan bantuan Sandro back-up joki dan kerbau peserta.
Pasangan kerbau yang berhasil meraih juara adalah pasangan kerbau tercepat mencapai tujuan sekaligus dapat menyentuh atau menjatuhkan kayu pancang tanda finish yang disebut dengan sakak.
Usaha seorang Joki mengendalikan kerbo untuk menabrak patok kayu.
1339110232675289116
Balapan kerbau sendiri dibagi menjadi beberapa kelas; mulai umur 2 hingga 5 tahun. Masing-masing kelas sudah ditandai sesuai dengan umur dan berat badannya. Yang menarik, tentu saja kerbau kelas A, yang berbadan kekar dan besar. Kecepatan kerbau-kerbau ini memang di atas kelas yang lebih kecil.
Pada setiap pertandingan, terdapat beberapa official pertandingan. Yang pertama tentu saja petugas start yang memastikan setiap kerbau memulai start pada tempatnya. Nah, yang paling krusial adalah wasit pemegang bendera, dialah yang menentukan apakah pasangan kerbau yang melewati garis finish dinyatakan sah atau tidak. Selain itu, tentu saja ada petugas pencatat waktu. Belum ada kamera finish yang modern yang mencatat garis finish. Mereka masih menggunakan stop watch digital, yang dihubungkan dengan petugas pencatat waktu di panggung. Menurut saya, masih cukup memadai dan akurat karena saat stop watch dipencet, angka digital di depan petugas pencatat juga langsung berhenti.
Untuk bisa meluruskan lagi, sang joki biasanya menghentakkan ekor kerbau di sebelah kiri dan memukul pantatnya lebih kencang dengan rotan agar kerbau sebelah kiri melaju. Dengan laju yang sama, jalanpun kembali lurus. Begitulah, timing kapan sang joki memukul kerbau sebelah kiri atau kanan sangat menentukan bagaimana pasangan kerbau itu bisa finish dengan cepat, dan tepat menyentuh patok kayu yang telah ditentukan.
Banyak kejadian lucu dan mengenaskan selama pertandingan berlangsung. Ada joki yang harus terlempar di tengah sawah, ada yang marah-marah karena kerbaunya tidak mau lari. Ada juga joki yang saking kesalnya, karena kerbaunya keluar jauh dari arena pertandingan, berteriak sangat kencang: “Dasar kerbau ngga punya otaaaaaaakkkkkkk”, tentu dengan ekspresi marah. Ada-ada aja….hihihihi..:)) Sumbawa memeng Unique city..^_^..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar